Kampung Adat Saga Tradisi Unik Warisan Turun-Temurun

Kampung Adat Saga Tradisi Unik Warisan Turun-Temurun
Kampung Adat Saga sebelum gempa hebat yang sempat terjadi di Flores pada tahun 1992. Merupakan, kampung dengan populasi penduduk terbanyak. Tinggal di puncak bukit , dengan topografi perkampungannya berbukit-bukit. Setelah kejadian tersebut banyak warga mengungsi dan membangun rumah baru dibawah bukit.

Nama Saga sendiri memiliki arti berwibawa, terhormat, terpandang dan bermartabat yang merupakan warisan dari nenek moyang. Tidak heran, sampai saat ini penduduknya masih menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya. Terutama soal upacara ucapan syukur karena hasil panen melimpah. Biasanya diadakan pada bulan September.

Bila menelusuri kampung ini jangan heran bila terdapat Rateh. Kuburan yang dibentuk dengan menggunakan batu, jenazah sendiri di tempatkan dalam posisi duduk. Tetapi, setelah agama katolik masuk, di samping Rateh dibangun kubur dengan batu nisan. Hampir semua rumah penduduk seperti ini.

Rumah Adat Sa’o

Rumah Kampung Adat saga bernama Sa’o. Saat ini jumlahnya ada 22 rumah, berbentuk panggung dengan pondasi berupa batu ceper. Tinggi dari tanah 60 sampai 100 cm. Makin ke atas, maka semakin penting kedudukannya. Saat menjelajah seluruh isi kampung, kamu bisa melihat dua lantai berbeda.

Pemisahnya adalah tinggi lantai, biasanya bagian luar lebih rendah dibandingkan dalam. Bagian teras depan, digunakan untuk menjamu tamu dan sebagai sarana berkumpul. Dulu, rumah adat ini bisa menampung beberapa keluarga sekaligus. Untuk membangunnya pun tidak boleh sembarangan.

Sebelum kayu dipotong untuk tiang penopang,masyarakat sekitar harus melakukan upacara adat terlebih dahulu. Hal menarik lainnya bisa kamu temui yaitu makam Kaki Nggali yang tampak berbeda dengan Rateh. Menggunakan bangunan dengan tiang satu, menyangga kotak beratapkan kayu.

Bila kamu bisa sampai puncak, ada rumah Dala wolo, leluhur pendiri kampung ini. Tidak boleh sembarangan orang masuk ke sana. Hanya orang tertentu saja, diperbolehkan untuk masuk ke dalam. Konon katanya tempatnya sangat sakral dan mistis.

Ritual Adat Nggua

Kampung Adat Saga masih menjunjung tinggi ritual adat sebagai ucapan rasa syukur atas berkah padi yang diberikan Tuhan. Ritual ini diketuai oleh Mosalaki atau orang yang paling tinggi dalam suku tersebut. Terdapat tujuh Mosalaki yang berwenang untuk melakukan upacara ini. Sementara, masyarakat adat lainnya mengikuti.

Ritual bermula dari tahap pembukaan ladang atau disebut dengan So’au. Dalam tahap ini, ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi bersama. Kemudian, ladang dibersihkan dengan cara di bakar. Hal ini bertujuan agar panen melimpah dan terbesar dari hama. Selanjutnya, ada Tedo.

Selesai Tedo, kamu akan diarahkan menuju ke ritual selanjutnya dengan. Memakan kacang-kacangan yang usianya memasuki 3 bulan. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan kembali siapa diri mereka sebenarnya. Serta mengingat leluhur. Bentuknya disusun rapi, yang melambangkan keturunan yang tidak pernah habis.

Saat padi panen, maka upacara ini akan memasuki tahap akhir. Hasil panen ini akan dilakukan kembali upacara. Kemudian, seluruh masyarakat akan berjumpa bersama dengan mosalaki menari dan makan bersama seharian penuh. Saat melakukan gawi, biasanya mosalaki terlebih dahulu baru warga sekitar.

Ada lagi upacara tolak bala, mereka tidak akan masuk ke dalam kebun lagi. Pada ritual ini sebelum gawi, Mosalaki akan memberikan makan pada leluhur terlebih dahulu di  batu ceper. Kemudan, batulah para warganya. Upacara ini sangat meriah, kamu harus kesini sekali dalam seumur hidup.

Cara Menuju Ke Kampung Adat Saga

Setelah kamu sampai di tingkat tertinggi. Suguhan menarik dari puncaknya menjadi pemandangan luar biasa. Taman Nasional Kelimutu, Air Terjun Muru Wena bisa kamu saksikan dari sini. Pepohonan hijau, terkadang terlihat kabut tipis adalah pesona yang setara dengan perjuangan sampai di sini.

Objek wisata ini terletak di Desa Saga, Detusuko, Ende, Nusa Tenggara Timur. Menuju ke tempat ini kamu harus naik pesawat terlebih dahulu, turun di Bandara  Hasan Aroeboesman. Tetapi, perjuangan berat siap menanti karena harus transit dulu ke beberapa tempat.

Waktu transitnya pun berbeda-beda. Sehingga, siapkan fisik kamu terlebih dahulu. Dari bandara lanjutkan perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Butuh waktu kurang lebih 60 menit dengan jarak 23 kilometer. Melalui Jalan Tol Maumere, bila lewat non tol perjalanan menempuh waktu 90 menit sampai 120 menit.

Kampung adat ini memang unik untuk dikunjungi. Berada di atas bukit membuatnya memiliki panorama yang indah dan tidak ada duanya. Jangan lupa bawa jaket tebal bila ingin menginap. Kampung Adat Saga adalah bukti bahwa masyarakat NTT masih menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya turun-temurun.

Komentar