Tradisi Sambut Tamu di Nusa Tenggara Timur

Tradisi Sambut Tamu di Nusa Tenggara Timur
Seperti halnya kebudayaan lain, Nusa Tenggara Timur juga memiliki kekhasan dalam tradisi sambut tamu yang datang ke tempat mereka. Yang unik adalah mereka memiliki budaya saling cium hidung atau menyentuhkan hidung satu sama lain dengan maksud menyapa atau memberikan salam satu sama lain.

Bukan hanya tradisi cium hidung yang unik dan hanya ada satu-satunya di NTT, wilayah di kepulauan Nusa Tenggara ini juga memiliki tradisi huler wair di lain daerah. Tradisi ini semacam ritual penyambutan tamu yang datang ke tempat mereka dengan tujuan apa pun dengan maksud menghormati tamu.

Berbagai tradisi lahir dari rahim budaya masing-masing. Indonesia merupakan negara kepulauan besar yang kaya akan unsur-unsur budayanya. Bahkan dari satu pulau saja kita mendapatkan banyak sekali budaya yang ditandai dengan eksistensi suku bangsa. Untuk berkomunikasi pun digunakan pula ragam bahasa.

Tradisi sambut tamu di setiap wilayah berbeda, demikian juga dengan setiap suku bangsa yang ada di Pulau Nusa Tenggara. Kali ini kita akan membahas dua tradisi menyambut tamu dari Sikka dan dari Sabu Raijua. Keduanya merupakan suku bangsa yang eksis dan menetap di Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Tradisi Henge’do di Sabu Raijua

Masyarakat Sabu Raijua adalah masyarakat yang mengeksiskan tradisi menyapa dengan mencium hidung satu sama lain. Praktiknya ialah dengan menempelkan hidung A ke hidung B, otomatis perilaku ini sama dengan memberi salam. Konon, ada banyak makna ciuman yang dilakukan oleh masyarakat ini.

Mencium satu sama lain bukanlah hal privasi atau sesuatu yang harus diperdebatkan karena budaya NTT sendiri membebaskannya. Artinya, ada sekitar 22 jenis ciuman yang maknanya berbeda-beda. Semua bisa melakukan ciuman tersebut terhadap siapa saja, di mana saja, dengan alasan dan tujuan tertentu.

Ada alasan tertentu kenapa masyarakat Sabu Raijua melestarikan tradisi sambut tamu dengan berciuman hidung. Filosofinya adalah konon hidung itu sumber kehidupan, di mana jalan masuk dan keluarnya napas dari kedua lubang tersebut. 

Dengan begitu, tradisi mencium hidung atau henge’do sama dengan menghidupkan rasa kekeluargaan satu sama lain ketika pertama kali dua orang bertemu.

Mungkin jika diibaratkan dengan kebiasaan kita dalam menyapa adalah tradisi saling berjabat tangan atau cium pipi kiri dan pipi kanan. Di NTT, tidak akan ada yang merasa tersinggung ketika satu orang menempelkan hidung ke orang lainnya. Karena tujuan dari tindakan ini ialah murni untuk menyapa.

Berawal dari Suku Sabu Raijua, tradisi sambut tamu ini kemudian berkembang pesat dan nyaris digunakan di NTT. Dengan adanya tindakan mencium hidung menandakan bahwa adanya ketulusan untuk berteman, bersaudara, satu keluarga, dan saling menyapa tanpa memandang perbedaan apa pun.

Tradisi Huler Wair di Sikka

Berbeda dengan Sabu Raijua dengan tradisi sambut tamu, di Sikka juga ada tradisi yang tidak kalah menarik untuk dibahas. Tradisi ini dinamakan sebagai tradisi huler wair atau tradisi menyambut tamu siapa pun tanpa terkecuali yang datang ke Sikka, Nusa Tenggara Timur. Menarik, Anda akan merasa terhormat. Misal, Anda orang penting ataupun bukan akan diberikan sambutan serupa oleh mereka.

Tradisi penyambutan ini diisi dengan adanya lantunan syair dalam bahasa Sikka dan dilakukan oleh satu orang tetua, di mana orang tersebut dinyatakan sebagai Kleteng Latar. Di samping tetua ada perempuan yang memegang kelapa, nantinya air kelapa akan dikenakan ke tamu dengan perantara dua daun huler.

Ada tujuan dari penyambutan tamu seperti ini, yakni kepercayaan masyarakat setempat agar tamu yang datang terhindar dari segala keburukan. Tradisi huler wair memiliki makna meminta restu kepada ibu bumi dan bapa langit agar segala acara yang nantinya dilangsungkan berjalan dengan baik-baik saja.

Bukan sembarangan, ada alasan tersendiri pula kenapa daun yang digunakan untuk menciprati air ke tamu itu daun huler. Konon, di Sikka, pohon huler itu tumbuh subur tanpa mengenal musim. 

Entah ketika penghujan atau ketika kemarau panjang sekalipun, huler tetap tumbuh dengan baik. Unik dan menarik ketika kita mengetahui tradisi sambut tamu di Sikka sebagai bagian kecil dari budaya Indonesia.

Komentar