Mengenal Kearifan Lokal Flores Tentang Keunikan Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo
Desa Wae Rebo merupakan desa adat terpencil di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kampung ini memiliki ketinggian 1.200 m DPAL. 

Desa ini memiliki jumlah penduduk yang tidak banyak. Hanya sekitar 7 rumah utama atau biasa disebut dengan Mbaru Niang.

Desa ini masih sangat tradisional dan masih memegang tradisi-tradisi turun temurun. Sangat jauh dari nama digitalisasi. Jarang ditemui sinyal 4g bahkan tidak ada signal. 

Butuh waktu 3-4 jam menempuh perjalanan dari kota hingga sampai ke desa ini. Namun itu semua akan terbayar kan ketika kamu sudah sapai ke lokasi.

Mengenal Tentang Sejarah Desa Wae Rebo

Wae Rebo terletak di Kampung Star Lenda, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa tenggara Timur. 

Masyarakatnya meyakini pendiri kampung mereka adalah Maro. Lebih dari 18 generasi orang Minang di kampung Wae Rebo. 

Banyak orang yang mengatakan, ribuan tahun lalu orang Minang berlayar di ribuan kilometer untuk mencapai Flores. 

Empo Maro bersama saudaranya Bimbang melakukan perjalanan secara tradisional. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan yang menghabiskan waktu di perjalanan berlayar.

Keunikan Desa Wae Rebo yang Harus Diketahui

Jika sudah mengetahui tentang sejarah Wae Rebo, tentunya kamu juga harus mengetahui keunikannya. Berikut beberapa keunikan yang didapatkan di desa ini. Di antaranya sebagai berikut

      1. Keunikan Rumah Adat Wae Rebo

Rumah adat Wae Rebo memiliki keunikan dibandingkan rumah-rumah yang sering kamu jumpai biasanya. Selain bentuk yang menjadi keunikan, jumlah bangunan memiliki filosofi magis.

Memiliki 7 bangunan yang unik. Mengangkat arsitektur Rumah Gadang dengan desain Dangka yang memiliki tanduk rangkap dua dan dijadikan satu. 

Rumah adat desa Wae Rebo memiliki tinggi 15 meter dengan susunan 5 lantai. Setiap lantai memiliki fungsinya masing-masing. Mulai dari tempat tinggal hingga tempat ritual adat. Berikut filosofi tingkatan rumah Mbarung Niang:

  • Tingkat pertama

Ruang ini difungsikan untuk tempat berkumpul keluarga. Tingkat pertama juga disebut dengan lutur atau bagian depan yang berfungsi sebagai ruang publik.

  • Tingkat kedua

Ruang tingkat kedua disebut sebagai loteng atau sarana tempat untuk menyimpan semua bahan makanan. Tingkat kedua dalam ruangan ini memiliki diameter 9 meter.

  • Tingkat Ketiga

Pada tingkatan ketiga ini biasanya digunakan untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan. Ruang ini memiliki diameter yang sama dengan ruang loteng yaitu sebesar 9 meter.

  • Tingkat keempat

Tingkat keempat berguna untuk menyimpan stok makanan jika sewaktu-waktu ada cuaca kemarau atau kekeringan melanda. Jadi memang sudah jauh-jauh hari menyiapkan persediaan makanan.

Pada tingkat keempat ini disebut juga lempa rae. Ruangan yang sangat urgent untuk masa depan keluarga.

  • Tingkat Kelima

Pada ruang tingkat ini dilakukan untuk menyimpan sesajian saat melakukan upacara adat yang sakral. Tingkat ini disebut juga hekang kode. 

      2. Keturunan Minang

Nenek moyang Empo Maro berasal dari Minang kabau yang merantau dari Flores dan Nomaden. Hingga akhirnya mereka menetap di kawasan atau desa yang sekarang ini bernama desa Wae Rebo.

      3. Bendera Republik Indonesia (RI) dipasang di atap rumah

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia selalu merayakan hari Kemerdekaan RI. Ada sedikit keunikan dari warga Wae Rebo, di mana mengibarkan benderanya di atap rumah. 

Kejadian yang unik dilakukan oleh warga sekitar. Di mana pada umumnya bendera dikibarkan di tiang, namun itu dikibarkan diatap rumah.

      4. Hari Spesial desa Wae Rebo

Siapa yang tidak bangga desanya memiliki hari spesial? Kamu pasti sangat senang jika hari spesial dirayakan dengan sangat meriah.

Begitu halnya desa satu ini, setiap November warga Wae Rebo merayakan sebuah upacara adat Penti. Perayaan atas rasa syukur berkaitan hasil panen yang didapatkan dalam waktu satu tahun.

Upacara ini bertujuan untuk memohon keharmonisan dan perlindungan. Kamu yang ingin berkunjung ke Wae Rebo sebaiknya pada saat upacara Penti dilaksanakan.

     5. Suasana di pagi hari dihiasi kabut tipis

Desa yang berada di ketinggian 1.200 di atas permukaan air laut, membuat Wae Rebo kerap dihiasi kabut tipis setiap pagi hari. Keindahan yang tidak didapatkan kamu warga dataran rendah.

Keunikan Wae Rebo menjadi keindahan tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan. Banyak destinasi favorit desa Wae Rebo yang harus kamu kunjungi ketika berkunjung di Flores Nusa Tenggara Timur.

Komentar