Fakta Unik kampung Tradisional Bena Flores, Pesona NTT Tak Terlupakan!

kampung Tradisional Bena
Kampung Tradisional Bena Flores terletak di Tiworiwu, Kecamatan Jerebu, kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur

Salah satu idaman turis yang cantik dan mempesona. Kampung ini masuk ke dalam kampung adat tertua di NTT yang masih mempertahankan adat istiadat bahkan rumah adat masyarakat setempat.

Kampung yang berdiri sejak 1.200 tahun yang lalu ini tidak banyak berubah dari masa ke masa. Rumah-rumah yang masih menggunakan bahan-bahan seperti jerami dan kayu.

Kampung penghasil kopi terbaik ini memiliki beberapa suku diantaranya yaitu Suku Khopa, Ago, Ngada, Deru Solamae, Der Lalulewa, Wahto, Dizi. Mayoritas bekerja sebagai peladang dan menenun bagi kaum wanita saat ada waktu luang.

Fakta Unik Kampung Tradisional Bena

Tidak lengkap jika tidak membicarakan keunikan kampung Bena. Karena banyak sekali keunikan yang bisa kamu ketahui. Berikut ini keunikan dari kampung ini:

  • Kampung Penghasil Kopi

Kampung Tradisional Bena Flores selain keindahan yang mempesona juga penghasil kopi yang nikmat. Banyak wisatawan mengaku hasil kopi kampung terbaik di Bajawa dan Flores. Dalam pengolahannya masih dilakukan secara tradisional. Oleh karena itu menjadi ciri khas rasa kopi yang enak.

  • Banyak dijumpai bebatuan megalitikum

Kampung Bena merupakan sebuah perkampungan megalitikum yang terletak di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur tepatnya di Desa Triwuriwu, Kecamatan Aimere.

  • Susunan Rumah Kampung Tradisional Bena Unik

Banyak sekali ditemui rumah adat tradisional yang memiliki filosofi masing-masing. Begitu juga rumah adat satu ini. Rumah masyarakat setempat membentuk huruf U. 

Dilengkapi tempat khusus untuk melaksanakan upacara adat yang digelar di tengah-tengah rumah. Di tengah-tengah desa terdapat sebuah lapangan yang biasa disebut Nga’du dan Bhaga. 

Nga’du yang berarti simbol nenek moyang laki-laki dan menyerupai sebuah payung dengan bangunan bertiang tunggal da beratap serat ijuk.

Tiang terbuat dari jenis kayu khusus dan keran berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika dilaksanakan pesta adat. Sedangkan bhaga berarti simbol nenek moyang perempuan yang bentuknya menyerupai miniatur rumah.

  • Kepercayaan masyarakat masih kental

Dalam sebuah masyarakat tradisonal sudah biasa memang jika memegang kuat kepercayaan. Posisi desa yang terletak di puncak bukit dengan latar belakang gunung Inerie menguatkan kepercayaan.

Selain suasana asri dan eksotis, masyarakat juga mempercayai dan memuja gunung sebagai tempat para dewa. Masyarakat kampung tradisional Bena meyakini bahwa keberadaan Dewa Yeta yang bersinggah di Gunung Inerie.

  • Profesi Petani dan Penenun

Selain memegang kepercayaan memuja dewa. Masyarakat ternyata mayoritas berpencaharian sebagai petani dan penenun. Para wanita desa Bena jika memiliki waktu luang biasanya menghabiskan waktunya untuk menenun. Kain tenun khas Flores ini dijual ke wisatawan dengan kisaran harga mencapai 300 ribu.

Selain kekuatan magis yang kental, ternyata juga sangat memegang kebudayaan kain tenun untuk tetap dilestarikan. Petani dan penenun menjadi mata pencaharian pokok masyarakat setempat.

  • Wisatawan Mancanegara

Bukan hanya masyarakat daerah sekitar yang sering menjumpai daerah yang unik ini. Wisatawan pelancong dari Jerman dan Italia juga mendominasi.

Banyak turis-turis yang berkunjung ke Kampung tradisional Bena. Suasana kampung yang asri bisa menjadi pilihan untuk menjadi bahan edukasi dan menambah pengalaman.

  • Tengkorak yang dijumpai di depan rumah

Jangan takut jika kamu saat berkunjung ke kampung tradisional Bena banyak menjumpai tengkorak. Banyak sekali tumpukan tengkorak kerbau yang disusun rapi. 

Tengkorak ini dari hail upacara adat yang diadakan oleh pemilik rumah. Ada filosofi sendiri mengenai jumlah tengkorak.

Semakin banyak tengkorak yang ada di depan rumah, menandakan semakin tinggi status sosialnya. Begitu sebaliknya jika jumlah tengkorak sedikit, maka status sosial juga rendah.

  • Warisan Sementara UNESCO

Pemerintah Indonesia mendaftarkan kampung tradisonal Bena Flores ke dalam UNESCO. Hal ini diajukan sejak tahun 1995. 

Salah satu situs warisan budaya dunia yang statusnya masih bersifat tentatif. Namun, tidak kalah bagusnya dengan warisan-warisan budaya yang lainnya.

Pastilah negeri tercinta ini bangga memiliki banyak ribuan bahkan jutaan warisan budaya yang masuk ke dalam list UNESCO. Tidak perlu diragukan lagi pesona alamnya. Seperti kampung tradisonal Bena Flores yang patut untuk dilestarikan.

Kesimpulan

Kampung tradisional Bena Flores menonjol di antara banyak objek wisata budaya di Indonesia dengan fakta dan warisannya yang unik. 

Bentang alam dan arsitekturnya yang menakjubkan, kepercayaan budaya yang kuat yang dijunjung tinggi oleh penduduknya.

Serta teknik tenun dan pewarnaan rumit yang digunakan untuk memproduksi tekstil tradisional adalah alasan mengapa tempat ini patut dikunjungi. 

Upaya pelestarian desa yang telah membantu mempertahankan keaslian dan signifikansi budayanya selama bertahun-tahun juga patut diacungi jempol. 

Intinya, kampung adat Bena merupakan bukti kekayaan warisan budaya Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia dan wajib dikunjungi bagi siapa saja yang tertarik dengan budaya, sejarah, dan seni.

Komentar