Kampung Adat Todo Pusat Peradaban Kerajaan Manggarai

Kampung Adat Todo Pusat Peradaban Kerajaan Manggarai
Menurut cerita Kampung Adat Todo merupakan pusat peradaban dari Kerajaan Manggarai. Upacara penyambutan tamunya disebut dengan adat kepok. Penduduknya sangat hangat dan ramah. Ciri khas mereka adalah suguhan Kopi Manggarai yang sudah terkenal ke seluruh pelosok Nusantara, cita rasanya sangat nikmat.

Desa tradisional pusat peradaban Kerajaan Manggarai, yang terletak di Pulau Flores Indonesia yang eksotis, berdiri sebagai bukti luar biasa akan warisan budaya yang kaya dan sejarah menarik dari wilayah yang mempesona ini. 

Tenggelam dalam tradisi dan dikelilingi oleh lanskap yang rimbun, pusat desa yang semarak ini merupakan penjelajahan menarik ke dalam cara hidup kuno, di mana adat dan ritual dilestarikan dengan cermat. Saat Anda berjalan melalui gang-gang batu yang sempit, aroma dupa tertinggal di udara, dengan lembut menggoda Anda untuk menggali lebih dalam ke jantung museum hidup ini. 

Rumah-rumah tradisional yang dirancang dengan rumit, dihiasi dengan ukiran yang rumit dan corak yang semarak, dengan bangga menampilkan keahlian ahli yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dalam masyarakat ini. 

Menjejakkan kaki ke pusat desa membawa Anda ke masa lalu, memungkinkan Anda membenamkan diri dalam kisah menawan peradaban Kerajaan Manggarai dan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai, kepercayaan, dan cara hidup mereka yang unik.

Rumah Adat Niang Todo

Dilihat dari sisi sejarahnya, Rumah Kampung Adat Todo ini usianya jauh lebih tua dari Mbaru Niang Wae Rebo. Atapnya disusun dengan menggunakan daun lontar, terlihat hampir menyentuh tanah. Ditopang dengan kayu worok dan bambu. Keunikan dari rumah ini adalah tidak menggunakan paku sama sekali.

Untuk bisa mengikatnya, menggunakan Tali rotan. Untuk tingkat pertama bernama lutur. Digunakan sebagai tempat berkumpulnya keluarga. Lantai dua, disebut dengan lobo, berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan. Tingkat ketiga bernama lentar, bagian ini digunakan untuk menyimpan berbagai macam benih pangan.

Ada Jagung, kacang-kacangan, dan padi. Naik lagi satu tingkat, di lantai pantai disebut Lempo. Di sini, digunakan untuk menyimpan stok makanan. Antisipasi bila terjadi kekeringan. Lantai terakhir dinamakan hekang kode, berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai sesajian untuk upacara adat dan leluhur.

Ritual Adat Wajo Mora

Keunikan lain dari Kampung Adat Todo adalah Ritual Adat Wajo Mora. Prosesi pemotongan kerbau langka dengan tanduk domba. Sebelumnya pemotongan ayam sebagai persembahan untuk leluhur pun dilaksanakan. Di sini juga, mereka akan menabuh gendang pusaka, disebut dengan Loke Nggereng.

Kerbau ini pun diarak menuju ke altar dengan persembahan mantera yang dibacakan oleh tetua adat. Selanjutnya, sekelompok penari dan penyanyi mengeliling hewan persembahan tersebut dan melantunkan sanda lilik yang dianggap sangat sakral. Lalu, hewan tersebut kemudian disembelih.

Upacara adat ini sebagai bentuk pembayaran hutan atau nazar leluhur mereka zaman dahulu bernama Empo Pahu. Untuk anak keturunannya menyembelih hewan kerbau langka, kepada sang pencipta. Agar masyarakat Todo selalu damai dan sejahtera. Setelah penyembelihan, upacara selesai, mereka pun makan bersama.

Gendang Kulit Manusia

Cerita mengenai Gendang Kulit Manusia ini memang benar adanya. Pada tahun 1989, seorang peneliti dari Polandia pun datang dan membuktikannya dengan melakukan penelitian. Hasilnya memang benar adanya bahwa gendang tersebut berasal dari kulit manusia asli.

Cerita dari tetua Kampung Adat Todo, dulu ada seorang perempuan cantik berasal dari India kabur menuju ke Bima. Menghindari konflik karena, menentang kelahirannya dan berniat membunuhnya. Tetapi, perginya ke Bima ternyata memunculkan masalah baru. Perempuan tersebut diperebutkan tiga raja sekaligus.

Hingga menimbulkan peperangan dan banyak korban jiwa berjatuhan. Selanjutnya, ketiganya berunding dan sepakat bahwa, siapa yang mampu mendapatkan serta menikahi perempuan tersebut, maka dia berhak jadi Raja Manggarai. Raja dari Todo berhasil menangkapnya dan keluar sebagai pemenang.

Tetapi, Raja Todo tidak menikahi perempuan tersebut. Beliau membunuhnya dengan cara tertentu. Setelah mengukuhkan diri sebagai raja Manggarai, beliau pun mendamaikan dua raja lainnya. Tubuh perempuan itu disimpan di Ndoso. Sebagian kulitnya digunakan untuk membuat Gendang sebagai simbol perdamaian.

Cara Menuju Ke Kampung Adat Todo

Tempat wisata ini terletak di Kecamatan Satarmese, Kecamatan Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sebelum tiba di lokasi, kamu harus terbang dahulu menuju ke Kupang. Selanjutnya, lanjutkan penerbangan menuju ke Ruteng. Hanya ada satu maskapai yang melayani dengan keberangkatan pukul 6 pagi.

Lalu, naik kendaraan selama 2 jam perjalanan. Selain dengan perjalanan udara. Kamu juga bisa menggunakan perjalanan darat. Tetapi, tetap gunakan pesawat terlebih dahulu menuju ke Labuan Bajo. Selanjutnya, naik kendaraan kurang lebih 4 jam sampai 7 jam lamanya. Untuk biaya masuknya dikenakan Rp30.000,-

Kamu akan mendapatkan fasilitas berupa kain khas Todo saat memasuki area ini. Kain khas ini pun juga dijual oleh sebagian masyarakat dengan harga mulai dari Rp50.000,- saja. Motif semakin beragam, harga makin tinggi. Untuk bisa melihat gendang dari kulit manusia kamu harus membayar Rp150,000,-.

Masyarakat Desa Todo punya pertunjukkan bela diri bernama cici. Pada upacara adat, biasa akan dipentaskan. Di sekitar Niang Todo, kamu bisa menemukan makam keramat, masih dirawat dengan baik. Kampung Adat Todo Peradaban Kerajaan Manggarai yang masih berdiri dan layak untuk dinikmati.

Komentar