Begini Dampak Covid-19 Terhadap Budaya NTT yang Perlu Diketahui!

Begini Dampak Covid-19 Terhadap Budaya NTT yang Perlu Diketahui!
Memahami apa saja dampak Covid-19 terhadap budaya NTT menjadi salah satu hal penting yang wajib dipahami dan dipelajari. Pasalnya, memahami apa saja dampak yang dihasilkan akan memberikan manfaat bagi berbagai pihak, khususnya pemerintah dalam menciptakan langkah atau inovasi strategi terbaik bagi keberlangsungan daerah mereka. 

Pasalnya, tidak hanya di daerah Nusa Tenggara Timur saja, pandemi Corona tengah memberikan berbagai pengaruh terhadap berbagai sektor di setiap daerah. Salah satunya adalah sektor di bidang budaya. Dampak di bidang budaya menjadi salah satu dampak yang perlu diperhatikan dengan penting.

Hal ini mengingat daerah tersebut tidak hanya terkenal akan destinasi alamnya sebagai daya tarik tersendiri, namun juga destinasi budaya yang tidak kalah menarik. Sehingga, jika salah satu destinasi tersebut terdampak, maka diperlakukan salah satu strategi terbaik bagi setiap daerah untuk memperbaikinya. 

Dengan cara tersebut, maka dampak Covid-19 terhadap budaya NTT dapat terselesaikan dan diperbaiki dengan maksimal. Namun begitu, pemerintah juga perlu memperhatikan beberapa persiapan dari para pelaku usaha. Apakah mereka siap dengan adanya perubahan baru atau tidak. Sehingga, proses perbaikan dapat dilakukan secara maksimal.

Dampak Virus Corona Terhadap Budaya Nusa Tenggara Timur

Penyebaran virus Corona memberikan dampak atau efek tersendiri bagi perkembangan budaya di setiap daerah, tidak terkecuali NTT. Menurut Kepala Desa setempat, Aleta Baun melalui World Culture Forum 2016 menyebutkan bahwa adanya modernisasi serta perubahan memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar. 

Di bidang budaya sendiri akibat Virus Corona, terdapat beberapa efek yang ditimbulkan. Salah satunya adalah dampak terhadap promosi budaya ke luar negeri atau mancanegara. Akibat adanya virus tersebut, promosi budaya NTT terhalang dan tidak tersalurkan kepada wisatawan mancanegara.

Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh tim penari Likurai asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berkaitan dengan dampak Covid-19 terhadap budaya NTT. Dirinya mengatakan bahwa tim mereka diharuskan untuk batal tampil di Australia, tepatnya di Darwin pada akhir Maret 2020 lalu. 

Hal tersebut tidak lain ditimbulkan dan diketahui setelah keluarnya hasil rapat teknis dari Dinas Pendidikan Kebudayaan Belu. Dimana, pihak Disbud Belu tidak menyarankan dan tidak memberikan surat izin untuk memberikan rekomendasi tersebut. Akibatnya, tim penari harus gagal menampilkan budaya mereka di Australia, tepatnya di Darwin.

Kegiatan Budaya yang Dibatalkan Akibat Persebaran Virus Covid-19

Tidak hanya penari asal Likurai tersebut, diketahui bahwa Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu bernama Hendrikus Andrada melalui pernyataannya pada Rabu 18 Maret 2020 di RRI menyebutkan bahwa sebanyak 6 tim penari asal Belu harus ditunda keberangkatannya.

Hal tersebut tidak lain akibat adanya dampak Covid-19 terhadap budaya NTT. Selanjutnya, upaya tersebut diharapkan dapat mencegah persebaran virus yang dibawa di luar negara akibat paparan udara yang bergantian. Hendrikus menyatakan bahwa pada 23 Maret telah dilakukan rapat terhadap penari tersebut. 

Salah satunya adalah rapat bersama tim penari Likurai ke luar negeri yaitu Likurai. Dari hasil rapat tersebut didapatkan bahwa pihak terkait tidak akan memberikan izin kepada tim penari untuk mengunjungi daerah tujuan, tidak lain adalah Australia. Pihak terkait tidak memberikan atau mengeluarkan surat izin. 

Di sisi lain, sebelumnya juga dijelaskan bahwa terdapat beberapa kegiatan lainnya yang harus ditunda. Misalnya adalah kerja sama dengan Pemda bersama ISI atau Institut Seni Indonesia Solo. Selain itu, beberapa kegiatan besar seperti pementasan Tari Likurai juga harus ditampilkan pada tahun 2019 namun mengalami penundaan.

Tidak hanya itu, dampak Covid-19 terhadap budaya NTT juga tengah memberikan berbagai dampak terhadap persiapan 1000 penari Likurai untuk melakukan pementasan kegiatan Festival Fulan Fehan pada 2018 di Atambua. Bahkan, kegiatan tersebut tengah berhasil dalam mencatat sejarah dan berhasil tampil di upacara peringatan HUT kemerdekaan.

Kegiatan Budaya di Mancanegara Lainnya yang Terdampak

Tidak hanya itu, akibat pandemi tersebut, beberapa kegiatan pentas seni yang berhubungan dengan budaya NTT sangat terganggu dan harus dibatalkan. Hal tersebut tentunya membuat masyarakat NTT diharuskan untuk diam sejenak berkebalikan dengan tahun sebelumnya yang rutin menampilkan budaya mereka.

Seperti contohnya adalah melalui Festival Celugam yang berasal dari Ternate. Seharusnya, festival tersebut diadakan pada akhir bulan Maret 2020. namun, akibat adanya pandemi tersebut, kegiatan dibatalkan dan tidak setujui oleh berbagai pihak. Menurut Hen, dirinya mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut harus ditunda dahulu sampai lockdown selesai.

Sebelumnya, selama pandemi surat edaran bupati setempat mengharuskan ASN untuk tidak melakukan perjalanan dinas ke luar daerah. Hal tersebut dikarenakan PLBN yang digunakan untuk akses luar masuk daerah harus dibatasi. Sehingga, tidak banyak orang bisa mengaksesnya seperti biasanya.

Akibat pandemi Covid-19, NTT diharuskan untuk diam sejenak. Pasalnya, budaya mereka tidak bisa masuk dan tampil dalam festival internasional. Bahkan, beberapa kegiatan domestik tahunan mereka diharuskan ditunda terlebih dahulu akibat dari dampak Covid-19 terhadap budaya NTT.

Comments