Memaknai Indahnya Toleransi Umat Beragama di Flores Timur

Memaknai Indahnya Toleransi Umat Beragama di Flores Timur
Indahnya toleransi umat beragama di Flores Timur menjadi bukti bahwa dalam keberagaman di Indonesia masih banyak warga negara kita yang menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika.

Perbedaan agama tidak selalu membuat kehidupan warga negara terpetak-petak.  Flores Timur menjadi salah satu dari 22 kabupaten atau kota di Nusa Tenggara Timur yang terkenal akan toleransi kehidupan beragamanya.

Wujud Toleransi Beragama di Flores Timur

Kabupaten Flores Timur sendiri terdiri dari daratan Flores Timur, Adonara serta Pulau solor yang berada di luas wilayah sekitar 1,8 km2. Dengan total penghuninya mencapai sekitar 280 ribu lebih jiwa.

Terdiri dari penduduk beragama Islam sekitar 60 ribu jiwa, Kristen Protestan 2,5 ribu jiwa, Katolik 200 ribu jiwa, Hindu 163 jiwa, Budha 14 jiwa dan Konghucu tidak lebih dari 5 jiwa.

Masyarakat Flores Timur hidup berdampingan satu sama lain tanpa membedakan suku agama dan ras. Hal tersebut terwujud dari upaya untuk tidak pernah mencederai sesamanya hanya karena perbedaan agama dan kepercayaan.

Itu karena mereka hidup dalam satu ikatan budaya dan adat yang sangat kuat. Contoh lainnya adalah ketika ada hajatan keagamaan di gereja Katolik seperti pentahbisan Imam baru.

Maka justru kelompok muslim di wilayah tersebut ikut sebagai panitia dan pengurus dalam kegiatan tersebut. Demikian pun sebaliknya apabila ada umat muslim yang menunaikan ibadah haji maka yang menjadi panitia penyambutan pulang kampung adalah Katolik.

Toleransi umat beragama di Flores Timur tidak hanya sebatas itu saja melainkan juga dalam hal pembangunan maupun rehabilitas rumah ibadat. Misalnya jika ada pembangunan masjid di suatu daerah maka umat agama lain pun akan terlibat membantu di dalamnya, begitupun sebaliknya.

Ini karena masyarakat Flores Timur sangat menyadari akan makna kerukunan hidup beragama. Rukun berasal dari bahasa Arab yang berarti tiang-tiang yang menopang rumah, memberi kedamaian dan kesejahteraan bagi penghuninya.

Makna ini mengindikasikan bahwa penduduk Flores Timur pada umumnya selalu berada dalam suasana kekeluargaan dan persaudaraan di dalam perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan.

Adonara Flores Timur Jadi Contoh Toleransi Beragama di Indonesia

Toleransi umat beragama di Adonara menjadi salah satu contoh toleransi umat beragama di Flores Timur. Bahkan pernyataan tersebut disampaikan sendiri oleh Antonius Gege Hadjon ST selaku Bupati Flores Timur bahwa Adonara memang menjunjung tinggi toleransi umat beragama.

Sehingga Flores Timur bisa dijadikan tempat untuk belajar toleransi beragama sebagai sumber misi toleransi di seluruh Indonesia. Presiden IMCS (International Movement Catholic School),

Edward Pahewa Karoue, yang berasal dari Togo merasa bangga dan senang bisa berada di Flores Timur sebagai daerah yang kental dengan gejala awal penyebaran Katolik.

Dirinya juga menuturkan bahwa Flores Timur bisa menjadi inspirasi generasi muda menjadi pemimpin dan pelayan rakyat karena mereka sangat menjunjung tinggi asas Bhinneka Tunggal Ika.

Warisan Toleransi Beragama di Adonara Flores Timur

Flores diartikan sebagai bunga, tentang bunga di sebuah taman maka tak indah bila hanya ada satu bunga saja. Taman akan indah kalau ada bunga mekar beraneka warna di dalamnya.

Mungkin seperti itulah yang bisa menggambarkan Flores sebagai kabupaten yang tidak mempermasalahkan keberagaman keyakinan masyarakatnya.

Baik agama Islam, Katolik serta agama lainnya turut memberikan warna tersendiri dalam kehidupan di tengah masyarakat Flores. Salah satunya terlihat jelas toleransi antar umat beragama di Namatukan, Lewo Witihama, Adonara yang sangat terjaga.

Ikatan kebersamaan masyarakatnya sangat kuat meskipun berbeda agama. Anggota DPRD Flores Timur, Muh. Moctar, menyampaikan bahwa tali persaudaraan antara umat Islam dan Katolik di Witihama sudah tertanam oleh leluhur dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya.

Menurutnya saat ini bukan lagi mempererat toleransi, akan tetapi juga menyiram dan memupuk toleransi antar umat beragama. Sehingga "pohon toleransi" yang sudah ditanam oleh para leluhur akan terus tumbuh.

Dan terus dipupuk dengan disiram melalui kedamaian, kerukunan, saling menghargai dan menerima satu sama lain. Demi mempertahankan toleransi umat beragama di Flores secara khusus dan di Indonesia secara umum.

Komentar